Apa Itu Stunting?
Ringkasan video: Apa itu stunting?
Stunting adalah kondisi anak yang memiliki panjang atau tinggi badan lebih rendah dari standar usianya. Menurut definisi WHO yang disampaikan video, stunting ditetapkan bila tinggi/panjang badan menurut usia berada di bawah −2 standar deviasi pada kurva pertumbuhan WHO. Kondisi ini berkaitan dengan kekurangan gizi yang berlangsung lama dan/atau infeksi berulang atau kronis, khususnya dalam 1.000 hari pertama kehidupan.
Tidak semua anak pendek mengalami stunting
Anak bertubuh pendek belum tentu stunting, karena tinggi badan juga dipengaruhi faktor genetik dan variasi pertumbuhan normal. Namun, anak yang stunting pasti bertubuh pendek menurut kurva pertumbuhan. Karena itu, penilaian sebaiknya dilakukan oleh dokter anak atau tenaga kesehatan melalui pengukuran yang tepat dan pemantauan kurva pertumbuhan.
Contoh yang diberikan video: pada anak perempuan usia 6 tahun, tinggi sekitar 115–120 cm disebut normal; 110 cm masih dapat berada pada batas normal, sedangkan sekitar 100–105 cm dapat termasuk stunting.
Penyebab dan faktor risiko
Faktor yang berkontribusi terhadap stunting meliputi:
* Status gizi ibu yang kurang baik.
* Praktik menyusui yang tidak optimal.
* Pemberian makan bayi dan balita yang kurang memadai.
* Infeksi berulang, baik yang bergejala maupun infeksi kronis tanpa gejala.
* Lingkungan yang tidak higienis, yang meningkatkan risiko infeksi.
Mengapa 1.000 hari pertama sangat penting?
Periode ini dimulai sejak hari pertama kehamilan sampai anak berusia 2 tahun. Pada masa tersebut, tubuh, otak, metabolisme, dan sistem kekebalan anak berkembang sangat pesat. Kecukupan gizi dan kesehatan pada periode ini sangat memengaruhi kemampuan anak untuk tumbuh, belajar, dan berkembang dalam jangka panjang.
Dampak stunting
Stunting tidak hanya berkaitan dengan tinggi badan. Kekurangan nutrisi dan infeksi yang menyebabkannya dapat menghambat perkembangan otak, sehingga kemampuan kognitif, belajar, dan memori anak tidak berkembang maksimal.
Dampak lain yang dijelaskan meliputi:
* Anak lebih mudah sakit karena sistem imun kurang berkembang optimal.
* Konsentrasi dan performa sekolah dapat lebih rendah.
* Kemampuan belajar yang terganggu dapat berlanjut hingga dewasa dan berkaitan dengan potensi penghasilan yang lebih rendah.
* Risiko tumbuh menjadi orang dewasa bertubuh pendek meningkat.
* Pada perempuan, tinggi badan sangat pendek dapat meningkatkan risiko komplikasi persalinan.
* Risiko penyakit kronis terkait gizi saat dewasa—seperti diabetes, hipertensi, dan obesitas—dapat meningkat.
Data yang disebut dalam video
Video menyampaikan bahwa pada 2022 terdapat sekitar 148 juta anak balita di dunia yang mengalami stunting. Di Indonesia, Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022 mencatat prevalensi stunting sebesar 21,6%.
Intinya
Pencegahan stunting perlu dimulai sejak sebelum dan selama kehamilan, lalu dilanjutkan dengan ASI, pemberian makanan pendamping ASI yang cukup dan bergizi, pencegahan serta penanganan infeksi, sanitasi yang baik, dan pemantauan pertumbuhan anak secara rutin.